Aku adalah Imam bagi keluargaku………

 

Sewaktu aku masih sendiri, aku hanya memikirkan diriku sendiri…

Paling tidak, aku cukup mendoakan kedua orang tuaku, dan sanak saudaraku,

Juga kaum muslimin baik yang telah mati maupun yang masih hidup…

Agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa hamba-hambaNya, yang disengaja atau pun tidak…

 

Sekarang, aku telah menikah, berkeluarga…..

Ditemani mantan kekasih pujaan hati sepanjang waktu hidupku…..

Dikaruniai anak-anak yang sehat dan lucu-lucu…..

Dan tanggung jawabku pun bertambah….

 

Aku harus “menghidupi” mereka…..

Mencarikan makan untuk mereka….

Mencarikan tempat untuk bernaung mereka….

Mencarikan dana untuk keperluan sekolah dan hari-hari mereka…

Memberikan ketenangan lahir dan batin untuk mereka…

Mengajari mereka…akan nilai-nilai yang baik dalam hidup…

Agar mereka bisa menjalani hidup lebih baik dari hidupku…

Memberikan teladan kepada mereka…

Bahwa hidup tidak semata-mata karena harta…tapi buah perbuatan yang baik…

Yang akan banyak berpengaruh kepada diri dan lingkungan…

 

Dan tetap pula…aku tidak boleh lupa..

Untuk tetap mendoakan kedua orang tuaku, berbuat baik kepada mereka selama masih hidup…

Dan tetap pula harus mendoakan kaum muslimin semua…

Dan berbuat baik terhadap lingkungan…

Semakin banyaklah tanggung jawab dan kewajibanku…

 

Hari semakin gelap…demi malam apabila ia menutupi…

Aku diambang kematian…..

Demi jiwa dan penyempurnaannya…

Terlintas pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku…

 

Apakah cintaku kepada istri dan anak-anakku telah melampaui cintaku terhadap Allah Ar-Rahiim…

Apakah cinta dan penghormatanku kepada kedua orang tuaku melebihi cinta dan hormatku kepada Allah Ar-Rahmaan…

Apakah semangatku ”menghidupi” mereka melebihi semangatku mendekati Allah Al-Qoriib…

Apakah keikhlasanku memberikan teladan kepada mereka melebihi keikhlasanku menyembah Allah

Apakah kekuatanku dihadapan mereka telah membuat aku melupakan kekuatan Allah Al Aziz…

Apakah kepintaranku membina mereka telah membuatku membodohi Allah …

Apakah aku telah mengajari mereka siapa Allah ?  Memaksa mereka untuk tunduk hanya pada Allah ?

Mewajibkan mereka untuk konsisten menjalankan seluruh perintah Allah?

Kalau belum, Imam seperti apa aku ini ?

Mungkin aku pula yang telah menjauhkan mereka dari rahmat Allah..

Aku pula yang telah membutakan mata dan matahati mereka dari tanda-tanda kekuasaan Allah…

Aku pula yang mengenalkan bau sedap dunia sehingga mereka terlena untuk bersiap diri

pulang ke kampung akhirat nan kekal….

Jadi, Imam seperti apa aku ini??

 

Dan apakah hidup dan matiku hanya untuk menyembah kepada Mu Ya Allah…..

Apakah aku benar-benar telah memahami dan melaksananan ”Innashsholaati wanusuuki wamahyaaya wama maati lillahi rabbal ’aalamiin”..

 

Ya Allah ..wama ana minal musyrikin…..

 

Written by Othmar Yasin

 

 

 

 

 

Pagiii!!!

Dua puluh tahun lebih sudah ritual sholat lima waktu saya jalankan, terkadang belang-betong, terkadang full-time. Sama halnya dengan ritual yang lain, puasa, mengaji (yasinan tiap malam jum’at), tetapi kering akan makna yang membekas dalam jiwa. Yang selanjutnya kurang berimbas pada perubahan akhlaq, mental attitude sehari-hari. Dosa demi dosa kecil tak terasa dan sengaja atau tidak masih rutin dilakukan, keinginan untuk lebih mempelajari dienul qoyyim, Al-Islam, tak ada perubahan, biasa-biasa saja.

Hingga suatu ketika, saya di”perintahkan” oleh perusahaan untuk mengikuti training ESQ 165 Professional di Pulau Bangka. Herannya, biasanya saya sangat pikir-pikir untuk ikut sesuatu training, contohnya, training motivasi Andrie Wongso, yang kemudian saya batalkan. Tapi untuk training ESQ ini saya langsung mengangguk setuju (belum juga training tapi saya udah melakukan anggukan universal, salah satu materi training ESQ).

Singkat cerita, hasilnya luar biasa!! Impact yang ditimbulkan terhadap qalbu sangat luar biasa. Terutama dalam rentang waktu hingga 1 bulan masih terasa. Belum ada hasil training yang bisa membekas di hati hingga minimal satu bulan lamanya seperti training ESQ165!  Akan tetapi, tidak semua peserta, mungkin, yang sangat terkesan dengan training ini, karena tergantung kondisi hati saat mengikuti training. Akibat qalbu yang tersentuh, maka secara otomatis mempengaruhi syaraf2 motorik untuk berperilaku yang lebih baik. Ada keinginan untuk Total Action, dan melontar jumroh (7 nilai yang membelenggu hati).

Pembuktian-pembuktian logis dari kandungan ayat-ayat Al Qur’an yang didisplay dengan perangkat audio visual lebih memberikan kemantapan dalam hati. Seringkali membaca ayat-ayat Qur’an yang berhubungan dengan penciptaan alam semesta, tapi tidak memiliki dampak apa-apa bagi pribadi ini. Tetapi melalui media audio visual, insya Alllah akan beda. Bagi yang mau mengikuti training ini, pertama, berhusnudhan lah, buang prasangka, persepsi, literatur, pengalaman dll yang akan membuat Anda berprasangka negatif. Take it easy-lah. Kedua, saat mengikuti training, jangan celingak-celinguk liat kiri-kanan, karena saat muhasabah itu akan berkesan saat anda berkonsentrasi penuh, dan nggak gengsi-gengsian. Menagislah kalo emang perlu menangis, menangislah sebelum terlambat, menyesallah akan dosa-dosa kita, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, karena pada saai itu sesalmu tak ada lagi gunanya. Selamat ber-spiritual jouney ! Mari kita menjadi patriot-patriot cinta Ilahi yang Maha Tinggi.

Salam ESQ 165

(tulisan pertama sejak sign up 16/4/2008)

 

ESQ

Day by day

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30